Berita Lainnya
Proses pemilihan presiden di Amerika adalah sebuah drama politik yang melelahkan, lahir dari sejarah 200-an tahun, dan menjadi buku panduan bagi pemilihan presiden negara-negara lainnya. Dan hasilnya, mau tak mau diakui, akan berpengaruh bagi hidup banyak warga bangsa lainnya (antara lain: perang, terorisme, krisis finansial & teknologi yang berasal dari AS ). Namun ada yang membedakan proses tahun ini dibandingkan periode-periode sebelumnya. Tahun ini, pemilihan presiden Amerika Serikat menjadi semakin populer dan ikut diperhatikan oleh banyak orang dari berbagai golongan dan kelas: dari warga anak kecil di Kenya sampai tante-tante di Tegal, dari Hawai sampai Munich . Pemicunya adalah kandidat bernama Barack Obama. Obama bagi banyak golongan adalah simbol sekaligus cermin dan juga fenomena.Obama adalah manusia abu-abu, lahir dan besar dalam persimpangan budaya yang membuatnya kesulitan mencari jatidiri di awal masa hidupnya. Anak dari seorang Kenya berkulit hitam legam dan ibu Amerika berkulit seputih susu, dibesarkan secara sederhana dalam budaya kulit putih namun memilih untuk mengidentifikasi dirinya sebagai seorang laki-laki kulit hitam. Sejak kecil hanya bermimpi menjadi pemain basket profesional di NBA, dan berlabuh menjadi politisi papan atas. Sebuah biografi yang tak lazim bagi seorang kandidat presiden Amerika (dimana kecurigaan dan luka akibat politik diskriminasi warna kulit dimasa lalu belum hilang sama sekali), sekaligus biografi yang menginspirasi banyak orang.Keabu-abuan ini sempat menjadikan Obama sebagai sasaran tembak lawan politiknya, dari tuduhan Obama adalah muslim, Obama tidak lahir di tanah Amerika sampai Obama adalah sosialis. Namun kejelian Obama dalam memanfaatkan biografi dirinya sebagai bukti kehebatan demokrasi di AS (Obama sering mengungkapkan: apa yang bisa saya capai hanya bisa terjadi di negara ini, tidak di manapun), kemampuannya memahami keinginan publik serta memformulasikan mantra perubahan dalam cara berpolitik membuatnya bisa mengarungi kerasnya jagat politik di AS. Muncul sebagai kandidat terpilih dari Partai Demokrat dengan terlebih dahulu merontokkan mesin politik kelas kakap milik dinasti Clinton, setelah pertarungan panjang dan melelahkan selama 8 bulan.Kampanye melawan kandidat Partai Republik, John McCain, jelas bukan hal yang mudah baginya. McCain adalah figur pahlawan AS, seorang veteran perang dari keturunan pembesar Angkatan laut AS (ayah dan kakek McCain adalah admiral), pernah mendekam dipenjara Vietkong dan menerima siksaan komunis Vietnam selama lima tahun. Obama yang relatif jauh lebih muda (47 tahun, Mc Cain 72 tahun) dan minim pengalaman politik (McCain telah menjadi anggota konggres AS sejak 26 tahun lalu). Namun sekali lagi Barack Obama berhasil melalui tantangan didepannya.Strategi kampanye Obama sejak awal telah mengubah peta dan strategi politik di AS. Kemampuannya mengeksploitasi teknologi dengan memaksimalkan potensi internet dan telepon selular sebagai basis jaringan kampanyenya menjadikannya sebagai kandidat dengan total sumbangan kampanye terbesar sepanjang masa ( 600-an Juta Dolar). Organisasi lapangan yang rapih, efisien dan tanpa lelah menjadikan Obama sebagai kandidat dengan perolehan suara terbesar sepanjang masa. Ia mampu mengubah daerah yang secara tradisional selalu berpihak pada partai musuhnya mengubah haluan. Kemampuannya menampilkan citra pembaharu menginspirasi kaum muda serta menjadikan McCain layaknya tokoh tua yang mulai pikun. Kelihaiannya mengeksploitasi krisis finansial dan kemerosotan ekonomi AS di dunia menjadi senjata yang mematikan yang melumpuhkan John McCain. Pembawaan yang kalem dan matang juga membuat pengalaman dan status pahlawan yang disandang McCain seolah lenyap begitu saja.Rakyat Amerika telah memilih dan mempercayai seorang presiden kulit hitam pertama dalam sejarah mereka. Barack Obama menjadi presiden ke-44 Amerika Serikat, menjadi pemimpin negara adidaya tunggal yang sedang dirongrong krisis ekonomi dan perang yang tak berkesudahan. Obama mengakhiri kampanye panjangnya selama 22 bulan sebagai pemenang. Seorang tokoh yang lahir dalam persimpangan budaya dunia telah muncul, dan dunia akan menantikan sejauh apa pencapaiannya. Selengkapnya
Pejuang Kesetaraan Jender
Ketua Umum PP Fatayat NU, organisasi perempuan di bawah Nahdlatul Ulama (NU), periode 2000-2005, dengan jumlah anggota empat juta, ini berjuang dalam perspektif keadilan dan kesetaraan jender. Perjuangannya penuh tantangan, yang membuatnya terkadang merasa frustrasi. Namun dia tetap kuat dan terus berjuang. Dia merasakan tantangan paling berat pada akhir tahun 1997 ketika berupaya mencari sponsor untuk kegiatan memperkenalkan perspektif kesetaraan jender tetapi memakai frame NU. Pada suatu lokakarya, dia ditanyai oleh seorang kiai, apa maunya? Karena menurut kiai tersebut, teks keagamaan sudah menghargai perempuan.
Lalu dia menjelaskan soal implementasinya. Di lokakarya itu dia sampai disebut mengada-ada. Tetapi, ketika itu dia mendapat dukungan dari Masdar F Masudi dan Gus Dur sehingga diskusi bisa terus berjalan. Upayanya membuahkan hasil. Musyawarah nasional (munas) ulama NU, November 1997 di Lombok, akhirnya memutuskan membolehkan perempuan berperan di ruang publik, yang diterjemahkan termasuk menjadi pemimpin negara. Kemudian, peluang untuk menggunakan perspektif jender itu diwujudkan menjadi visi dan misi Fatayat dalam kongresnya tahun 2000.
Namun, dia menjelaskan, hal itu bukan hasil kerjanya sendiri melainkan hasil kerja bersama teman-temannya di Fatayat, di antaranya Aisyah Hamid Baidlowi. Setelah gagasan kesetaraan jender secara formal diterima, ternyata implementasi di lapangan tidak mudah. Dalam Muktamar NU di Kediri (1999), Fatayat ingin hasil penelitian mereka mengenai pemahaman nusyuz (penolakan istri untuk melayani suami) yang bias jender di masyarakat berperan dalam kekerasan dalam rumah tangga, masuk menjadi agenda bahsul masail (forum yang membicarakan masalah aktual), hanya boleh dipresentasikan saja di forum.
Pada munas di Pondok Gede, Jakarta Timur, 2002, Fatayat mencoba agar aborsi masuk ke dalam bahsul masail, ternyata ada penolakan kuat dari peserta. Begitu juga dalam Muktamar NU bulan Desember 2004, Fatayat ingin mendesak agar pemimpin NU lebih punya perspektif jender dan lebih berpihak pada permasalahan perempuan, juga menghadapi tantangan. Akibat terlalu banyak menghadapi tantangan, Maria mengaku tidak jarang merasa frustrasi. "Sudah berbicara berbusa-busa, kok belum terasa banyak hasilnya," keluhnya. Lahir di Indramayu pada tanggal 15 Oktober 1960, Maria dibesarkan di dalam keluarga yang membedakan dengan tegas peran ibu dan ayah.
Isteri dari Abdullah Ghalib dan ibu dari dua anak, Nida dan Syahid, ini setelah menikah, di rumah terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah tangga sendiri karena tidak punya pekerja rumah tangga. Ketika anak pertama lahir dan ibunya berkunjung, ibunya protes kepadanya karena suaminya mencuci pakaian sendiri. Tapi dia sangat berterima kasih kepada ayah-ibunya yang mendidik dengan keras dalam hal pendidikan, namun membolehkannya memilih jalan hidup sendiri. Hal mana, Maria bisa aktif dalam kegiatan organisasi NU. Tahun 1989-1996 dia bergabung dengan Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU di bagian dokumentasi dan informasi, lalu di kelompok asistensi teknis. ketika itu, dia lebih banyak melayani perempuan, dalam pemberdayaan ekonomi.
Pada tahun 1990 dia juga bergabung di litbang Fatayat. Kemudian dalam Kongres Fatayat tahun 1995, ia terpilih menjadi Ketua IV yang membidangi ekonomi dan litbang. Lima tahun berikutnya, dalam Kongres Fatayat tahun 2000, dia terpilih menjadi Ketua Umum Fatayat. Seharusnya bulan Agustus lalu sudah kongres, tetapi karena ada pemilu kemudian diundur. Rencananya, kongres diadakan Februari 2005," tutur Maria. Keinginan memperdalam masalah perempuan dengan perspektif jender, telah pula mendorongnya menyelesaikan S2 di Program Kajian Wanita Program Pascasarjana Universitas Indonesia.
Atas dedikasi tinggi dan aktivitasnya di Fatayat dan dalam penelitian, dia pun mendapat Anugerah Saparinah Sadli, yang diserahkan langsung oleh tokoh perempuan Prof Dr Saparinah Sadli bulan Agustus 2004. Maria orang pertama kali menerima anugerah tersebut atas penelitiannya berjudul Fiqih Aborsi Alternatif untuk Penguatan Hak-hak Reproduksi Perempuan.Maria melihat, ke depan persoalan yang dihadapi terasa semakin menantang, antara lain karena munculnya usaha memformalkan syariat Islam di daerah-daerah yang cenderung kembali ke pandangan tekstual dan lebih menekankan kepatuhan fisik daripada melihat substansi di dalam teks keagamaan.
Menghadapi kecenderungan itu, Maria, yang kini juga dipercaya menjadi staf khusus (setingkat staf ahli) di Kantor Menko Kesra, melakukan sosialisasi di antara anggotanya mengenai nilai-nilai Islam yang menghargai keberagaman. Meskipun demikian, dia mengakui upaya itu baru bisa menjangkau separuh anggotanya. Perihal perkawinan beda agama, Maria Ulfah mengakui, di kalangan Islam selama ini ada perbedaan tafsir soal boleh tidaknya pernikahan beda agama. Menurutnya, hal ini bagian yang sifatnya khilafiyah, bagian yang pemaknaan, sehingga orang menafsirkannya bermacam-macam. Karena ini bersifat khilafiyah, ini dikembalikan kepada yang bersangkutan, dia mau memilih yang mana. "Kalau risiko-risikonya ada menjadi konsekuensi dari pilihan," katanya sabaimana dikutip Rado Nederland hasil Laporan Tim Liputan 68H, Jakarta, 14 Oktober 2004.




(1 rates)- 15/05/2012 12:22Jasa Raharja Naikan Santunan Kecelakaan
- 09/05/2012 12:03KidZania Jakarta Peringati Hari Palang Merah Sedunia!
- 01/05/2012 13:29Grand Final Lomba Yel-Yel Bolpen Standard
- 28/04/2012 09:13Yuk Ajak si Buah Hati Seruunya Belajar Dan Bermain Di Kidzania
- 28/04/2012 08:57Waw Wahana Baru Kidzania Pabrik Handuk
Lihat 0 Komentar Kirim Komentar Disclamer Email Newsletter
Informasi Pemasangan Iklan:
hubungi :
Telepon 021-574 7053 · Fax 021-824 33 979
Raymond di 0812-881-230-00 · raemond@mustangcorps.com · Blackberry: 3000AC19
Dina Momang di 0816-705-837 · dina@mustangcorps.com · Blackberry: 2532A7C8






