Berita Lainnya
Hacker Sukses Terobos Server Depkeh AS
Seruu.com - Sejumlah peretas (hacker) sukses memperoleh akses ke dalam satu jejaring yang dikelola oleh Departemen Kehakiman AS, kata wanita juru bicara departemen itu Senin (21/5/2012). Sebelumnya kelompok peretas Anonymous mengatakan kelompok itu berada di balik peristiwa tersebut. Selengkapnya
Beberapa Keunggulan Samsung Galaxy S III
Jakarta, Seruu.com - Pada peluncuran produk terbarunya Samsung Galaxy S III di Jakarta, Selasa (22/5/2012) siang tadi, pihak Samsung mendaku seri keluaran terbarunya itu bisa mengenali suara. Selengkapnya
Google Dituduh Menerobos Pengaturan Privasi Dalam Aplikasi "Apple safari"
San Fransisco Seruu.com - Google dan tiga perusahan periklanan dalam jaringan pada Jumat (17/2/2012) dituduh menerobos pengaturan privasi dalam aplikasi perambah Apple "Safari" guna menelusuri kebiasaan selancar di komputer dan iPhone.
"Aplikasi perambah Safari secara baku terkonfigurasi untuk memblok "cookies" pihak ketiga. Kami mengidentifikasi empat perusahaan periklanan yang menempatkan cookies yang dapat terlacak di Safari. Google dan Vibrant Media secara sengaja mengelak dari fitur privasi Safari," kata seorang mahasiswa Universitas Stanford, dalam sebuah posting blog yang dirilis pada Jumat (17/2/2012).
Kode pelacakan tersebut dikonfirmasi oleh penyelia teknis Jurnal Wall Street. Dari 100 laman internet populer, ditemukan 22 laman yang mengandung iklan dalam sebuah komputer yang dipasangi kode pelacak oleh Google. Sebanyak 23 iklan juga terpasang sebagai kode di iPhone.
Menurut riset itu, Google dan perusahaan lainnya telah mengeksploitasi celah dalam pengaturan privasi aplikasi perambah Safari, yang secara standar memblok pelacakan, tetapi membuat pengecualian jika seorang pengguna berinteraksi dengan laman tersebut, misalnya dengan mengisi formulir tertentu.
"Jadi Google menambahkan kode dalam beberapa iklannya, sehingga Safari mengira seorang pengguna sedang mengirimkan form tak terlihat kepada Google. Safari kemudian akan membiarkan Google menempatkan cookie di ponsel atau komputer itu," kata laporan Jurnal Wall Street.
Laporan itu mengatakan file kecil yang disebut "cookie" itu biasanya tidak berfungsi setelah 12 hingga 24 jam, namun terkadang dapat berfungsi untuk penelusuran lebih lanjut terhadap para pengguna Safari, karena Safari membolehkan sejumlah perusahaan untuk menambahkan lebih banyak cookies dalam sebuah komputer ketika satu cookie telah terpasang.
Google menonaktifkan kode itu setelah dihubungi oleh Jurnal Wall Street, kata harian itu. Raksasa pencari itu juga menghilangkan beberapa instruksi kepada pengguna Safari dalam salah satu laman internet mereka, yang dikatakan para pengguna dapat melakukan pengaturan privasi lewat Safari jika ingin mencegah pelacakan privasi oleh Google.
"Jurnal itu salah membaca situasi yang terjadi. Kami biasa menggunakan Safari untuk menyediakan fitur yang diaktifkan para pengguna Google. Penting sekali untuk menegaskan bahwa cookies iklan itu tidak mengumpulkan informasi pribadi," kata Google dalam sebuah pernyataan.
Tiga perusahaan periklanan daring lain yang juga dituduh menggunakan kode serupa adalah Vibrant Media, WPP`s Media Innovation Group dan Gannet`s PointRoll.
Seorang programer di Mumbai, Anant Garg (25), adalah pengembang kode "Safari workaround"dan mem-posting tentang penggunaan teknisnya dua tahun lalu. Ia mengatakan kepada Jurnal Wall Street bahwa ia tidak mempertimbangkan aspek privasi karena ia hanya ingin Safari bekerja seperti aplikasi perambah lainnya.
Kelompok pemantau konsumen pada Jumat meminta Komisi Perdagangan Federal AS (FTC) untuk menyelidiki apakah Google melanggar kesepakatan dengan FTC sebelumnya tentang pembajakan dengan menempatkan cookies pelacak yang menghindar dari pengaturan privasi di aplikasi perambah Safari.
Masih pada Jumat, Microsoft mengecam Google terkait praktik itu, dengan mengatakan hal itu bukan yang pertama dilakukan Google. Dalam sebuah posting blog berjudul "Merambah tanpa harus terambah", Microsoft mempromosikan aplikasi Internet Explorer 9, dengan menyorot proteksi privasi yang terkuat dalam industri internet.
Google tengah mendapat sorotan terkait pelanggaran hak privasi penggunanya. Akhir bulan lalu, Google mengumumkan untuk menulis ulang kebijakan privasi mereka, dengan mengonsolidasikan informasi pengguna di seluruh layanan mereka.
Langkah tersebut segera disambut kekhawatiran dan kekecewaan karena Google tidak menawarkan pilihan pembatasan privasi tertentu kepada penggunanya.[ant]
- 24/04/2012 13:38Peringati Penemu Resleting, Tampilan Google Hari Ini Berubah
- 13/04/2012 10:45Google Bukukan Laba Kuartalan 2,89 Miliar Dolar AS
- 11/04/2012 07:06Saingi iPad, Google Luncurkan Tablet pada Bulan Juli
- 04/04/2012 15:45Seluruh Karya Seni Google Art Akan Sangat Dijaga Keamanannya
- 31/03/2012 10:01Google Inc Resmi Hadir di Indonesia
Lihat 0 Komentar Kirim Komentar Disclamer Email Newsletter
Informasi Pemasangan Iklan:
hubungi :
Telepon 021-574 7053 · Fax 021-824 33 979
Raymond di 0812-881-230-00 · raemond@mustangcorps.com · Blackberry: 3000AC19
Dina Momang di 0816-705-837 · dina@mustangcorps.com · Blackberry: 2532A7C8






