Seruu Radio   Index Berita   Suara Pembaca   Foto   Video   Mobile   Games   Bursa   GaulSeruu Hari ini: Rabu, 23 Mei 2012 09:58

Berita Lainnya

Skandal Century, KPK Kembali Agendakan Pertemuan Dengan Timwas
Selasa, 22 Mei 2012 - 21:52

Jakarta, Seruu.com - Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Johan Budi SP mengatakan bahwa pihaknya akan kembali menggelar pertemuan dengan tim pengawas (Timwas) skandal Century. Selengkapnya

Kasus Hambalang, KPK Pastikan Periksa Menteri Andi Kamis Besok
Selasa, 22 Mei 2012 - 20:26

Jakarta, Seruu.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memastikan akan memeriksa Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Andi Mallarangeng terkait kasus proyek pembangunan Sport Center, Hambalang, Bogor, Jawa Barat.  Selengkapnya

Berikut Aksi Brutal Polisi Saat Menembak Mati Arif dan Syaiful, Dua Bocah Belasan Tahun, Versi Komnas HAM

Rabu, 4 Januari 2012 - 13:59 · Topik: konflik-tambang-emas
Saeful Korban Tewas Akibat Tembakan Polisi di Bima

Jakarta, Seruu.com - Sungguh malang nasib Syaiful, 17 tahun. Niat hati menolong rekannya, Arif Rahman, 18 tahun, yang tertembak polisi, Syaiful malah mendapat 'hadiah' tembakan dari polisi. Syaiful dan Arif adalah dua korban tewas akibat tindakan represif polisi saat membubarkan warga yang memblokade Pelabuhan Sape, Bima, Nusa Tenggara Barat, 24 Desember lalu.

Komisi Nasional (Komnas) HAM mencatat Syaiful dan Arif tewas sekitar 700 meter dari pelabuhan.

Wakil Ketua Komnas HAM Ridha Saleh menyebutkan Arif tertembak saat menyelamatkan diri dan lari dari pelabuhan. Saat lari, Arif dan warga lain tidak menggunakan jalan utama desa karena sudah ditutup polisi. "Warga yang meninggalkan pelabuhan lari melalui jalan kampung di Kampung Jala," ujar Ridha di kantornya, Selasa kemarin.

Saat lari itulah, Arif ditembak polisi di dada sebelah kiri. Menurut keterangan saksi, Komnas menyebutkan korban ditembak dari arah jalan utama yang sudah dikuasai aparat. Menurut data di jalan utama itulah, persis di depan SPBU Sape, polisi menempatkan pasukan dengan senjata api paling kuat.

Melihat Arif roboh, rekannya, Syaiful, datang membantu dari arah berlawanan, yaitu dari gang Desa Soro, Kecamatan Lambu. Saat hendak menolong Arif inilah, Syaiful ditembak di dada sebelah kanan. Menurut Ridha, sesaat setelah roboh, Arif dan Syaiful langsung dibawa oleh polisi ke rumah sakit.

Komnas mencatat, dalam penembakan yang dilakukan aparat pagi itu, hampir semua korban luka tembak mengaku tidak dalam posisi menyerang aparat saat ditembak. Mereka ada yang ditembak saat menyerahkan diri. Bahkan warga yang berniat menolong pun ikut menjadi sasaran polisi. Di antaranya terdapat korban perempuan dan anak-anak.

Korban tewas lainnya dalam kerusuhan pagi itu adalah Syarifudin, 46 tahun. Sesuai keterangan saksi, korban ikut aksi sejak 19 Desember. Saat polisi melakukan tindakan represif, Syarifudin ikut lari menyelamatkan diri. Namun, kemudian kakak korban menemukan korban jatuh tak jauh di depan rumah dalam kondisi ada bercak darah di bagian pantat dan basah berlumuran lumpur. Korban kemudian diangkat ke rumah dan meninggal sore harinya. "Kami masih mendalami penyebab tewasnya Syarifudin karena keluarga tidak mau diotopsi," ujar Ridha.

Selain aksi penembakan, aparat juga melakukan serangkaian tindakan kekerasan. Dalam video yang diputar Komnas HAM, warga yang sudah menyerah dan tidak bersenjata tetap dipukul dan ditendang. Bahkan ada yang dipukul dengan senjata sehingga kulit kepalanya robek. Komnas mencatat lebih dari 30 orang mengalami luka tembak dan belasan lainnya mengalami kekerasan. Sedangkan satu warga, Nasrulah, 30 tahun, warga Desa Melayu, Kecamatan Lambu, hingga kemarin masih belum kembali ke rumahnya.

Aksi brutal polisi di Sape ini bermula dari tindakan warga memblokir Pelabuhan Sape. Mereka menuntut Bupati Bima mencabut izin eksplorasi tambang yang diberikan kepada PT Sumber Mineral Nusantara melalui Surat Keputusan Bupati Nomor 188.45/357/004/2010. Izin eksplorasi pada areal seluas 24.980 hektare, yang mencakup Kecamatan Sape, Kecamatan Lambu, dan Kecamatan Langgudu, ini dinilai akan mengancam persawahan, ladang, dan sumber mata air rakyat. [ms]

Rating artikel: icon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_full (1 rates)
Rating
  • icon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_full
  • icon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_full
  • icon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_full
  • icon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_full
  • icon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_full
Diskusikan pendapat Anda dan berinteraksi dengan pembaca lain di Komunitas GaulSeruu
Segera bergabung dan manfaatkan seluruh fasilitas yang gaul dan canggih gratis disini

Lihat 1 Komentar Kirim Komentar Disclamer Email Newsletter

avatar
John Jack
Rabu, 4 Januari 2012 - 15:02
Udah kayak pasukan Israel aja!!!! NECH!!!
Klik disini untuk berkomentar menggunakan account anda
      
Redaksi: redaksi@seruu.com
Informasi Pemasangan Iklan:
hubungi :
Telepon 021-574 7053 · Fax 021-824 33 979
Raymond di 0812-881-230-00 · raemond@mustangcorps.com · Blackberry: 3000AC19
Dina Momang di 0816-705-837 · dina@mustangcorps.com · Blackberry: 2532A7C8