Berita Lainnya
Indonesia Ikuti Pameran Kelautan International Untuk Perkuat Eksistensinya
Jakarta, Seruu.com - Pemerintah Indonesia terus berupaya mempertahankan eksitensinya di mata dunia internasional sebagai sebuah negara bahari dan kepulauan terbesar di dunia serta memiliki keanekaragaman hayati laut terbesar (mega marine biodiversity) di dunia. Untuk itu, dibutuhkan sebuah strategi yang tepat dalam mempromosikan potensi laut Indonesia, disamping merebut peluang pasar produk perikanan di dunia internasional, salah satunya melalui keikutsertaan Indonesia dalam perhelatan akbar Expo 2012 Yeosu, Korea Selatan. Menteri Kelautan dan Perikanan, Sharif C. Sutardjo yang diwakili oleh Inspektur Jenderal KKP, Andha Fauzie Miraza pada saat menghadiri dan merayakan Nasional Day Indonesia hari ini (20/5/2012) di Paviliun Indonesia, mengatakan bahwa keikutsertaan Indonesia dalam ajang ini adalah untuk membangun sebuah hubungan dan jejaring kerja sama internasional serta semua unsur yang terkait didalamnya. Ia juga berharap potensi sektor kelautan dan perikanan Indonesia dapat menjadi arus utama pertumbuhan ekonomi nasional dalam mendukung keamanan pangan. Selengkapnya
Purwokerto, Seruu.com - Sekitar 200 relawan Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Banyumas menggelar aksi tebar 10 ribu benih ikan di Sungai Tanjlig, Purwokerto, Selasa, sebagai wujud kepedulian terhadap lingkungan. Selengkapnya
Pakar: Ikan Patin Dan Gurami Tahan Ancaman "Blooming Fitoplankton"
Lubukbasung, Sumbar Seruu.com - Pakar Perikanan dari Universitas Bung Hatta (UBH), Prof Dr Ir Hafrijal Syandri, MS, menyatakan ikan gurami dan patin tahan terhadap ancaman "blooming fitoplankton".
"Hasil penelitian yang dilakukan di Danau Maninjau saat "blooming fitoplankton" terjadi, kedua ikan tersebut terbukti mampu bertahan hidup," katanya di Lubukbasung, Kamis (26/01/2012).
Dalam siklusnya, "blooming fitoplankton" terjadi pada Oktober sampai Januari yang disertai angin kencang dan curah hujan yang tinggi.
Sehingga, pada permukaan air oksigen berkurang, karena terjadi proses pengadukan sisa pakan yang mengendap di dasar perairan yang mengakibatkan semua ikan yang ada di keramba akan mengalami pusing dan menjadi mati.
"Data tahun 2005 yang kita miliki, sekitar 15 persen sisa pakan mengendap di dasar perairan," katanya.
Untuk itu, petani keramba jaring apung harus membudidayakan dua jenis ikan ini agar tidak mengalami kerugian besar.
"Sesuai data yang kita peroleh, saat terjadi blooming fitoplankton dan mengakibatkan ikan banyak yang mati sehingga petani mengalami kerugian cukup besar sekitar ratusan juta sampai miliaran rupiah," tambahnya.
Ia meminta Pemkab Agam melalui Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Agam harus menyosialisasikan ini agar masyarakat bisa membudidayakan ikan gurami dan patin.
"Dari sisi pemasaran, kedua ikan ini cukup diminati, baik itu pasar domestik maupun pasar luar provinsi," kata Rektor Universitas Bung Hatta ini.
Selain itu, tata ruang keramba jaring apung harus diatur dengan ketentuan yang dimiliki, seperti jarak antar tepi pantai 100 meter dengan kedalaman 10 meter dan jarak antara petak 10 meter.
Di tempat terpisah, Sekretaris Dinas Kelautan Perikanan Kabupaten Agam, Ermanto, mengatakan, pihaknya berupaya untuk menyosialisasikan ini agar petani tidak mengalami kerugian begitu banyak.
"Kita telah mencoba mengimbau petani agar membuat keramba jaring apung yang ramah lingkungan dengan dua jaring dengan tujuan agar sisa pakan ini tidak terbuang ke dasar perairan," katanya.[ant/ast]
Lihat 0 Komentar Kirim Komentar Disclamer Email Newsletter
Informasi Pemasangan Iklan:
hubungi :
Telepon 021-574 7053 · Fax 021-824 33 979
Raymond di 0812-881-230-00 · raemond@mustangcorps.com · Blackberry: 3000AC19
Dina Momang di 0816-705-837 · dina@mustangcorps.com · Blackberry: 2532A7C8






